“Selama ini yang diuntungkan adalah cukong dan aktor di balik layar, sementara masyarakat hanya menerima dampaknya, mulai dari lingkungan rusak, jalan hancur, sungai tercemar, konflik sosial, dan kini nyawa melayang,” tutur Safri.
Mantan aktivis PMII ini menegaskan, tragedi yang terus menerus menelan korban jiwa di PETI Poboya ini harus menjadi pelajaran bagi penegakan hukum di Sulteng
Baca Juga:
Dirreskrimsus Polda Sulteng Menolak Diwawancarai Wartawan Soal Penetapan Tersangka Kasus Proyek PU Donggala
“APH di Sulteng harus melakukan penegakan hukum secara menyeluruh tanpa pandang bulu terhadap pelaku PETI di Sulteng,” tegas Safri.
Dalam kesempatan itu, Safri, melontarkan peringatan keras, ia mengatakan bahwa setiap detik pembiaran terhadap tambang ilegal adalah ancaman langsung terhadap nyawa rakyat baik pekerja maupun warga yang berada di lingkungan terdekat.
‘’Jika negara terus diam, maka negara harus siap menanggung dosa kemanusiaan berikutnya,” tutupnya.
Baca Juga:
Kapolda Sulteng Lantik Kombes Pol Hari Rosena, Resmi Jabat Kapolresta Kota Palu
[Redaktur: Sobar Bahtiar]