Safri, Lebih lanjut mengatakan, kematian pekerja di tambang ilegal Poboya ini mengungkap kebohongan besar para pihak terkait yang selama ini disampaikan ke publik.
Ia menyebut tragedi ini menjadi fakta yang menampar keras para pihak yang terus menutup mata atau bahkan melindungi keberadaan aktivitas PETI di kawasan tersebut.
Baca Juga:
Dirreskrimsus Polda Sulteng Menolak Diwawancarai Wartawan Soal Penetapan Tersangka Kasus Proyek PU Donggala
“Kematian pekerja di lokasi tambang ilegal Poboya merupakan bukti nyata dan menjadi tamparan keras terhadap para pihak yang yang menyebut tidak ada tambang ilegal di Poboya. Ini bukan lagi opini yang sering diperdebatkan, tetapi fakta di lapangan yang menelan korban nyawa manusia,” ujar Politisi PKB itu.
Safri juga kembali menegaskan, bahwa setiap nyawa yang melayang di kawasan tambang ilegal adalah bukti pembiaran oleh APH utamanya Polda Sulteng sebab aktivitas PETI ini hanya berjarak sekira 7 km dari Markas Komando (Mako) Polda Sulteng.
Menurutnya, aktivitas ini juga sangat membahayakan lingkungan sebab menggunakan bahan beracun berbahaya tanpa izin, tanpa standar keselamatan, dan tanpa pengawasan hukum, akan tetapi terindikasi justru dijadikan sebagai ladang yang setiap saat jadi pengintai maut masyarakat yang sengaja dibiarkan.
Baca Juga:
Kapolda Sulteng Lantik Kombes Pol Hari Rosena, Resmi Jabat Kapolresta Kota Palu
‘’Kita seperti hidup dalam hutan rimba tanpa aturan yang tegas, tatanan lingkungan dan moral kemanusiaan,’’ sindirnya.
‘’Ini tragedi kemanusiaan serius. Jangan bungkus dengan istilah kecelakaan kerja. Yang terjadi adalah eksploitasi manusia di tambang ilegal, sementara negara gagal hadir melindungi warganya,” cetusnya kembali.
Safri mendesak agar pemberantasan tambang ilegal tidak berhenti pada pekerja di lapangan, tetapi harus menyentuh akar persoalan, termasuk pihak-pihak yang menikmati dan meraup keuntungan ekonomi dari aktivitas ilegal tersebut.