SULTENG.WAHANANEWS.CO, Tolitoli – Aksi unjuk rasa penolakan tambang ilegal (PETI) di depan Kantor Pemerintahan Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah (Sulteng) sempat diwarnai kericuhan. Ketegangan terjadi saat Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengulurkan tangan untuk bersalaman, Namun direspons lambat oleh massa pendemo. Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan rekaman video yang beredar, massa awalnya meminta dialog dengan gubernur. Teks dalam video tertulis "kami ingin berdialog dengan bapak gubernur".
Baca Juga:
PAMA Perkuat Transisi Ekonomi Pascatambang, Resmikan Galeri UMKM dan Koperasi di Muara Enim
Gubernur Anwar Hafid kemudian mendatangi kerumunan dan mengajak salaman sambil berkata "Jabat tangan dulu de".
Pendemo memilih menunggu dialog dan penyerahan tuntutan terlebih dulu. Gestur itu membuat Gubernur menunjuk wajah pendemo dan melontarkan kata "ternyata sopan".
Suasana langsung memanas. Bupati Tolitoli yang berada di lokasi ikut tersulut emosi. Ia maju dengan nada tinggi dan terjadi dorong-dorongan antara massa dan aparat pengamanan. Polisi serta TNI langsung turun tangan melerai kerumunan.
Baca Juga:
Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga Naik pada Paruh Kedua Maret 2026
Beberapa detik kemudian situasi berhasil dikendalikan. Orator aksi kemudian mengumumkan bahwa tuntutan massa telah diterima oleh Bupati Tolitoli dan Gubernur Sulawesi Tengah. Massa membubarkan diri dengan tertib.
Analisis singkat: Kericuhan dipicu miskomunikasi etika. Gubernur menganggap salaman sebagai tanda damai, sementara pendemo menuntut dialog dulu baru bersalaman. Emosi sesaat dari kedua belah pihak dan reaksi keras Bupati Tolitoli menjadi pemantik kericuhan. Tuntutan aksi sendiri akhirnya diterima.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]
Berita Toliz