SULTENG.WAHANANEWS.CO, Kota Palu – Komunitas Pelaku Ekonomi Kreatif Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar buka puasa bersama sekaligus silaturahmi antar pelaku bisnis se-Sulteng, di Hotel Grand The Syah, Jalan Sam Ratulangi, Kecamatan Besusu Tengah Kecamatan Palu Timur, Minggu (1/3/2026).
Acara ini dihadiri sejumlah pelaku usaha dari beberapa daerah diantaranya, Kota Palu, Donggala, Parigi Moutong, Tolitoli, Buol, Poso dan Ampana.
Baca Juga:
Perkuat Soliditas, Kapolrestabes Medan Terima Kunjungan Dan Denpom I/5
Acara buka puasa ini berlangsung dengan penuh keakraban, dirangkai dengan santap bersama, kemudian dilanjutkan dengan Sholat magrib hingga Sholat tarawih berjamaah.
Setelah selesai sholat tarawih acara dilanjutkan dengan diskusi ringan sambil ngopi.
Adalah Hardy D. Yambas, Inisiator pelaksana buka puasa bersama ini mengatakan, Acara ini merupakan silaturahmi biasa guna membangun komunikasi sesama pelaku ekonomi kreatif bertepatan dengan hari ke 11 bulan suci Ramadhan yang kami sepakati sebagai hari baik.
Baca Juga:
Perwakilan Aliansi Tenaga Honorer Sumedang Kunjungi Komisi I DPRD, Sampaikan Agenda Penyerahan SK PPPK Paruh Waktu
“Hari ini bertepatan dengan hari ke 11 bulan suci Ramadhan merupakan hari yang baik, maka kami sepakati untuk melakukan buka puasa bersama, kemudian dilanjutkan Sholat magrib dan tarawih bersama setelah itu dilanjutkan dengan diskusi ringan membahas perkembangan usaha kreatif di Sulteng,” ujar Hardy kepada SULTEMG.WAHANANEWS.CO,, di sela acara buka puasa tersebut.
Namun, Saat ditanya terkait polemik pemilihan Ketua KADIN Provinsi Sulteng, Hardy, menanggapi santai, Ia menyebut bahwa, Anggota komunitas Pelaku Ekonomi Kreatif ini adalah bagian dari 23 anggota KADIN Provinsi Sulteng yang diberhentikan secara sepihak oleh Nur Rahmatu.
“Kami Bingung dengan polemik KADIN saat ini sebab 23 Anggota KADIN Sulteng yang memiliki SK diberhentikan jadi pengurus, Padahal sebaliknya justru orang-orang tidak memiliki SK dijadikan dijadikan pengurus bahkan panitia pemilihan ketua KADIN,” tutur Hardy.
Lebih lanjut Hardy, mengatakan bahwa kepengurusan KADIN Sulteng saat ini sudah tidak sehat lagi sebab tidak lagi mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga AD/ART KADIN itu sendiri.
“Bayangkan saja, pendaftaran mau jadi Ketua KADIN harus mengeluarkan uang Rp 200 juta dan pengembalian formulir pendaftaran harus membayar Rp 400 Juta, padahal hal itu tidak ada diatur dalam AD/ART.
Selain itu Kata Hardy, selama periode 5 tahun ini, KADIN Sulteng dibawa kepemimpinan Nur Rahmati seperti mati suri, sama sekali tidak ada kegiatan.
Justru kalah dengan KADIN Kabupaten Parigi Moutong yang terbukti berkontribusi memajukan UMKM, dan telah berhasil melakukan Ekspor Durian Montong ke Tiongkok.dihadiri Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Kamis (26/2/2026)
“Seharusnya, Ketua KADIN Sulteng Malu kalah dengan KADIN Parimo, kita telah saksikan bersama KADIN Parimo telah berhasil menggerakan UMKM Parimo ekspor Durian Montong ke Tiongkok yang diresmikan langsung oleh Gubernur,” pungkas Hardy.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]